Beda (part 2)

Enam bulan berlalu, tidak ada kabar dari Bimo maupun Tio. Akhir tahun lalu pun aku sudah tak lagi PKL di Majalah Sosial. Kuliahku pun sudah selesai. Sekarang aku sedang kerja di Majalah Kuliner. Sibuk dengan pekerjaan, aku tidak memikirkan lagi soal pasangan.
"Halo. Siapa ini?"
"Assalamualaikum Riana"
"Waalaikumsalam. Deva?"
"Hafal suara ku ya?"
"Lama banget nggak ketemu. Sekitar 5 tahunan. Puasaan nih? Nggak balik ke Jakarta?"
"Hahahaha iya lama banget ya. Rencananya mau balik ke Jakarta. Tapi nggak bisa saat kamu ulang tahun"
"Kamu datang bawain aku oleh-oleh sekaligus kado ya buat gue"
"Kamu mau apa? Di Jogja ini ada banyak. Batik? Pia? Gudeg?"
"Terserah kamu. Namanya kado harus surprise dong"
"Tanggal tua hahaha. Nanti kalau aku balik, kamu traktir aku ya, kan ulang tahun"
"Iya gampang, nanti kita buka puasa bareng ya"
Telponan semalaman suntuk dengan Deva, sahabat ku sejak kecil. Lulus SMA kita pisah. Aku tetap di Jakarta, dia ke Jogja. Saking sibuknya aku lupa kalau minggu depan aku ulang tahun.

Tanggal 14 Juni pun datang. Sejak pagi notif social media pun penuh dengan ucapan dan doa dari orang-orang terdekat. Di kantor pun dikasih surprise oleh bos dan teman-teman kantor. Siangnya ada chat dari seseorang yang sudah lama tidak menyapa.
"Happy Birthday"
"Terimakasih Mas Tio"
"Traktir dong hahaha"
"Boleh. Tapi kadonya mana dulu?"
"Kamu mau apa?"
"Terserah. Namanya juga kado, harus surprise dong"
"Aku sudah sediain sih kadonya. Malam ini jam brp mau jemput?"
"Jam 8 malam ya, kita ke cafe Royals. Kebetulan hari ini aku lagi nggak puasa, jadi nggak bisa terawih nanti malam"
"Tunggu jam 8 malam ya"
Sepertinya dia tidak akan datang seperti hari itu. Nggak mau berharap terlalu banyak sama dia.

Saat sedang santai, handphone pun berbunyi. Mas Tio. Pasti mau bilang maaf lagi. "Halo Mas Tio"
"Aku di depan rumah kamu"
Bohong! Aku mengintip dari jendela. Benar dia datang dengan motornya.
"Lima menit, aku belum siap. Tunggu ya"

Saat di motor dia hanya diam. Aku mencoba untuk memulai percakapan dengannya, "Aku pikir Mas Tio nggak bakalan datang seperti waktu janjian nonton itu"
"Ini hari spesial kamu. Aku bakal datang"
"Gimana natal kemarin di kampung?"
"Rame. Semua kumpul di rumah nenek. Lebaran ini kamu kemana?"
"Ke Bandung. Temuin orang tua."
"Tidak ke tempat pacar kamu?"
"Pacar? Siapa?"
"Waktu itu jemput kamu di rapat pertama kali kita ketemu. Bimo"
"Sudah lama putus. Aku kan pernah bilang"

Setelah sampai di cafe Royals, memesan makanan dan minuman. Sekali lagi aku yang memulai percapakan itu. "Kenapa waktu itu nggak kasih kabar kalau pulang kampung?"
"Aku patah hati. Kamu bohong sama aku. Kamu bilang tidak punya pacar. Tapi saat aku ketemu Saga beberapa hari sebelum kita janjian nonton, dia bilang kamu punya pacar namanya Bimo"
"Mas Tio lebih percaya Mas Saga daripada aku sendiri? Aku yang jalanin. Aku yang tau cerita hidupku"
"Bisa saja kamu mau bohong sama aku?"
"Buat apa bohong?"
"Mungkin kamu mau cari selingkuhan"
"Alasan terbodoh yang pernah ku dengar! Asal Mas Tio tau, saat aku nonton sendirian, pikiran ku ke Mas Tio. Aku pikir Mas Tio kecelakaan atau kenapa-kenapa di jalan saat mau jemput aku. Ternyata alasannya seperti ini. Kalau pertemuan ini hanya untuk membuat kita berantem sebaiknya aku pulang"
"Aku minta maaf. Kita selesaikan acara ulang tahun mu ini. Aku nggak bakal bahas tentang itu lagi"
Tidak ingin aku menatap wajahnya. Aku tidak habis pikir, bisa-bisanya orang yang tidak mengenalku dengan dekat, berani menghakimi aku seperti itu. Setelah meluapkan kemarahan, dia lah yang lebih sering berbicara, bertanya dan bercerita. Hingga sampai mengantarkan aku pulang pun, dia masih berbicara.
"Aku tau kamu masih marah. Ini kado yang sudah aku siapkan. Semoga kamu suka. Bukanya di dalam saja"

Sesampainya di dalam rumah, aku segera membuka kado tersebut. Boneka panda. Aku segera mengirimkan chat terimakasih. Kemudian berjanji kalau dia ulang tahun, aku juga akan memberinya kado.

Tiga hari berlalu. Sejak saat itu tidak ada Mas Tio menghubungi. Mungkin dia sibuk seperti biasanya. Handphone berbunyi, aku pikir itu dari dia. Ternyata Deva. "Assalamualikum Riana. Aku sudah sampai di Jakarta. Nanti sore sebelum maghrib aku jemput ya. Buka puasa di cafe Sushi yuk."
"Waalaikumsalam Deva. Aku belum jawab kamu sudah ngomong panjang lebar hahahaha. Aku tunggu ya"

Saat di cafe Sushi, aku dan Deva bercerita tentang kehidupan kita masing-masing. "Kita foto yuk, mau upload di sosial media nih,"ajakku.
"Ini hampir lupa. Kado buat kamu. Happy Birthday"
"Boleh aku buka?"
Deva mengangguk tanda setuju.
"Dress batik. Cantik banget! Makasih ya"

Tring!

T: Harusnya kemarin aku tanya, pacar kamu sekarang siapa? Setelah 6 bulan berlalu pasti kamu sudah ada yang baru

"Apaan sih maksudnya? Rese!"
"Kenapa Ri?"
"Jadi gini ada cowok, namanya Tio. Kita itu pertama kali ketemu ........ "
Panjang lebar aku menjelaskan tentang Tio ke Deva.
"Dia suka kamu kali. Buktinya dia cemburu lihat foto kita berdua"
"Tapi kemarin juga dia belum apa-apa sudah judge aku. Dia percaya diri sekali, aku bakalan jadiin dia selingkuhan. Aneh"
"Coba tanya dia, apa dulu mantannya pernah selingkuhin dia? Kamu nggak suka sama dia kan? Kalian berbeda. Ayuk Ri kita pulang. Sebentar lagi Isya. Kita terawih bareng yuk"

Aku tidak membalas chat dari Mas Tio. Aku kepikiran dengan kata-kata Deva. "Kamu nggak suka sama dia kan? Kalian berbeda"
Deva tau bagaimana tipe cowok idaman ku. Seiman. Ya Allah, kenapa malah ribet begini?
Aku mencoba membalas chatnya

R: Maksudnya?
T: Itu pacar kamu kan?
R: Bukanlah. Baca captionnya kan? Sahabat aku dari kecil. Susah sih kalau nggak pernah percaya sama aku. Mau aku ngomong apapun juga akan selalu dianggap bohong

Hanya dibaca. Sepertinya sampai pagi tidak akan dibalas. 

Komentar

Postingan Populer