Beda (Part.1)
Malam itu pertama kalinya aku mengikuti rapat, sebagai anak PKL fotographer, aku hanya menurut apa kata pelatihku.
"Selamat malam semua, hari ini kita akan membahas acara amal yang akan dilakukan minggu depan, saya akan perkenalkan perwakilan dari LSM yang bekerja bersama kita nanti, ini Mas Tio dan Mas Surya, mereka yang nantinya temanin kalian untuk ambil dokumentasi kegiatan amal nanti, lebih banyaknya akan dijelaskan oleh Mas Tio"
"Terimakasih Mas Jun atas kesempatan yang diberikan, saya perwakilan LSM yang biasa mendidik anak jalanan disekitar Jalan Sukmasari, minggu depan saya akan menemani kalian anak-anak PKL untuk mengambil dokumentasi kegiatan kami nanti...."
Tiba-tiba handphone aku bunyi memutus pembicaraan Mas Tio,"Maaf, permisi saya keluar sebentar"
"Halo. Aku lagi sibuk"
"10 menit lagi aku sampai buat jemput kamu"
"Aku belum selesai rapat"
"Nanti aku minta izin Saga pelatih kamu itu, dia teman aku kok, dia pasti mengerti acara ulang tahun Oma aku lebih penting daripada rapat kamu itu Riana sayang"
"Ok Bimo buat hari ini aku mengalah sana kamu demi hormatin Oma kamu, tapi tolong ke depannya jangan ganggu aku sampai PKL aku selesai"
"Siap sayang"
Lalu aku masuk kembali ke ruang rapat itu mendengarkan Mas Jun, Supervisor Editing Majalah Sosial tempat aku PKL sekarang ini. "Jadi akan dibagi 3 grup, Grup 1 dipegang Fahrozi untuk ambil dokumentasi kegiatan donatur. Grup 2 dipegang Saga untuk ambil dokumentasi kegiatan anggota LSM. Grup 3 dipegang Dito untuk ambil dokumentasi kegiatan anak-anak jalanan di sana. Ada pertanyaan? Jika tidak ada, silahkan diskusikan sama anak-anak PKL kalian"
"Riana, Henny, Gilang, jadi nanti kalian mulai dari kantor LSM nya di Jalan Tenggiri. Selain ambil gambar, kalian juga harus bantu mereka...."
"Saga, sorry, Gue putus pembicaraan Lo. Mau minta izin Riana pulang duluan, ada acara keluarga"
"Kita lagi rapat Bim, bisa nunggu sampai selesai?"
"Hari iniiii saja, besok besok Gue nggak ganggu begini deh, please" melas Bimo.
"Ya sudah, Riana, saya bolehkan kamu pulang duluan, info selanjutnya nanti saya WA"
"Thanks Sag, Lo sahabat Gue yang pengertian"
Akhirnya aku pamit ke Mas Saga, Mas Jun.
Hari acarapun tiba, kameraku pun siap beraksi, memotret kegiatan orang-orang LSM, sesekali aku bertanya bagai wartawan sama mereka. "Mas Tio berapa lama LSM ini dibentuk?"
"Kurang lebih 3 tahunan"
"Kenapa anak jalanan jadi sasaran?"
"Ikutlah hari ini, kamu akan tau jawabannya"
Acaranya berlangsung dengan baik. Jam istirahat pun tiba. Disaat yang lain sedang santai, aku asyik memotret di luar kelas anak jalanan. Tanpa sadar ada 3 orang preman menggodaku.
"Cewek! Manis banget! Sendirian saja? Habis darimana? Abang antarin pulang ya"
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Dikelilingi 3 laki-laki berbadan besar dan kejar, aku yang bertubuh kecil ini hanya bisa ketakutan dan ingin menangis.
"Kameranya bagus juga, Abang pinjam ya Neng, bagus juga ini kalau dijual"
"Jangan, Bang, buat saya Kuliah itu"
Aku tarik menarik kamera dengan preman itu. Temannya yang lain mulai mencolek-colek badanku.
Bruak!
Salah satu preman itu jatuh. "Bang jangan ganggu, mereka lagi bantu anak-anak hari ini"
"Eh Bos Tio. Maaf Bos, kami tidak tahu. Kami kira dia hanya orang lewat yang bisa kita jadikan mangsa. Teman-teman, kita ke tempat lain saja. Maaf ya Neng"
"Kamu nggak apa-apa Riana?"
"Makasih Mas Tio. Aku nggak apa, tapi kamera ku lensanya retak"
"Maaf ya, harusnya aku peringatkan kalian di awal, jangan terlalu jauh dari kelas, banyak preman di luar sini"
Acara pun selesai. Untungnya aku membawa 2 kamera. Saat yang lain mulai pulang, Mas Tio menahanku.
"Riana, mana kameramu yang rusak. Aku punya teman yang bisa perbaiki itu"
"Boleh tuh Mas, dimana alamatnya?"
"Tidak usah, cukup kameramu saja kasih ke saya, sama minta nomer kamu biar bisa hubungin kalau sudah selesai"
"Ok Mas, ini kamera dan nomer saya. Maaf saya buru-buru mau pulang dulu"
"Sudah dijemput pacar ya?"
"Hahahaha gitu deh Mas"
"Hati-hati"
"Lama banget kamu keluar dari LSM itu? Aku lihat teman-teman kamu yang lain sudah pulang. Kamu berduaan dengan siapa di dalam"
"Bisa nggak selalu percaya sama aku?"
"Sekarang kamu yang ngatur aku? Aku rela nggak jadi ke New York hanya karena mau temanin kamu kuliah di Jakarta"
"Kamu ke sana saja, aku tidak pernah larang kamu"
"Kamu sudah nggak sayang lagi ke aku? 2 tahun kita bersama, apapun aku lakukan untuk kamu"
"Tapi itu kan impian orang tua kamu, ikutilah kemauan mereka"
"nggak usah alihkan pembicaraan. Siapa yang berduaan dengan kamu tadi di dalam LSM?"
"Nggak ada"
"Bohong! Ini apa" sambil menunjukkan foto yang ada di handphone nya.
"Itu orang LSM dia, mau bantu baikin kamera aku"
Dilemparkan handphonenya ke wajahku, "Tuh kan kamu bohong! Tadi bilang tidak ada!"
Bimo tidak sadar hidung dan bibirku berdarah terkena handphonenya.
"Kenapa diam? Ketahuan bersalah?"
Aku hanya mencari tisu disekitar mobilnya. Lalu dia tersadar, "Kamu kenapa? Kok berdarah?"
Aku diam.
"Maaf Riana, aku pikir tidak terkena wajahmu. Antar ke Rumah sakit ya"
"Kenapa mbak? Ujung bibirnya berdarah memar gini, hidungnya juga",tanya perawat yang mengobatiku.
"Dia tidak sengaja terhantup mbak, saat saya rem mendadak, tadi hampir kecelakaan kami mbak," Bimo menjelaskan dengan kebohongannya.
"Silahkan sudah bisa pulang"
"Makasih mbak"
Kami pun pamit,"Jangan diam gitu. Aku minta maaf. Aku akan lakukan apa saja demi kamu maafin aku. Jangan diam begitu. Aku tidak sengaja Riana. Aku emosi kamu berbohong. Kalau kamu jujur, aku nggak akan seperti itu"
"Aku jujur pun kamu tidak percaya"
"Aku percaya. Maafin aku"
"Aku mau maafin kamu kalau kamu ke New York. Aku nggak mau disinisin keluarga kamu. Mereka pikir aku menghalangi kamu. Waktu di acara Oma kamu, Oma kamu sama sekali tidak mau melihatku, Oma kamu bilang ke aku, kalau aku penghalang, aku duri buat keluarga kamu"
"Nanti aku ngomong sama Oma, penilaian Oma salah tentang kamu"
"Kamu katanya mau melakukan apa saja buat dapat maaf dari aku?"
"Iya. Tapi jangan suruh aku jauh dari kamu"
"Aku nggak maafin kamu"
"Ok! Aku ke New York!"
Besoknya aku mengantarkannya ke bandara. "Tunggu aku ya, nanti aku bakal sering pulang kok"
Aku memeluknya. Orangtua nya dan Oma nya sudah dapat menerimaku dan berterimakasih kepadaku. Setelah Bimo berangkat, Oma nya berkata,"Terimakasih mengikhkaskan Bimo mengerjakan impiannya, mulai sekarang kalian putus. Jangan hubungin Bimo lagi, nanti terganggu dia di sana"
"Kalau Bimo yang hubungin saya?"
"Jangan direspon!"
Malamnya aku mengerjakan laporan untuk diserahkan Mas Saga. Aku lupa mengambil memory di kamera yang rusak itu. Aku mencoba chat Mas Tio:
R: Mas Tio dimana? Saya lupa mengambil memory yang ada di kamera kemarin. Isinya mau saya jadikan laporan besok ke Mas Saga.
Sudah 15 menit belum dibaca?
Aku coba telpon. Tidak diangkat.
Masih jam 8 malam. Mau mencoba untuk langsung ke LSM, tapi masih hujan deras. Pesan taksi online saja. Sial! Sudah tutup kantor LSM nya. Serahkan laporan ke Mas Saga seadanya saja.
Besok paginya, aku mengatakan sejujurnya sama Mas Saga. Respon Mas Saga hanya tersenyum. "Kenapa?"
"Tenang saja, hasil foto kamu sudah diemail kemarin sama Tio. Dia lagi ada di luar kota, makanya dia tidak membalas WA dan telpon kamu. Hasil foto mu tidak jelek. Saran saya, ini sebaiknya kamu ambil dari sini, fokuskan ke objek ini, aku tau makna foto ini, maksudnya begini kan?"
Mendengarkan penjelasan Mas Saga sambil mencatat. Tidak terasa waktu pulang telah tiba. Jam menunjukkan pukul 4 sore. Tiba-tiba chat Mas Tio masuk:
T: Maaf baru balas, kemarin saya ada di luar kota, hasil memory kamu sudah aku kirim ke email Saga. Kamera mu sudah baik. Nanti malam ada acara? Gimana kalau ketemuan di cafe Royals jam 7?
R: Ok Mas cafe Royals jam 7. Berapa total perbaikan kameranya?
Tidak dibaca lagi?
Malamnya aku pun datang ke cafe Royals. Mas Tio sudah menungguku. Sendirian. Ini bukan kencan kan? Tanyaku dalam hati.
"Lama nunggunya?"
"Nggak. Baru aja kok. Mau pesan apa?"
"Hot coklatnya satu ya mbak."
"Nggak makan? Nyemil gitu"
"Mas Tio pesan apa?"
"Burger"
"French Fries nya satu"
"Ini kamera kamu. Dicheck dulu"
"Wah iya sudah bagus lagi. Berapa mas?"
"Free"
"Jangan! Pasti mahal banget ini"
"Sebagai gantinya, saya minta traktir nonton dong minggu depan"
"Nonton?"
"Kenapa? Pacar kamu marah?"
"Nggak. Saya nggak punya pacar" aku tidak bohong. Oma nya sendiri yang bilang kita putus.
"Filmnya lagi booming. Saya mau nonton. Tapi gak ada temannya"
"Boleh deh. Kapan?"
"Sabtu ini ya, bisa?"
"Bisa"
"Ayo kita makan"
Ternyata malam itu sungguh menyenangkan. Rasanya sudah lama aku tidak makan malam berdua dengan cowok selain Bimo. Kalau dilihat Mas Tio cakep juga. Kira-kira dia berapa tahun lebih tua dari aku ya?
"Kenapa nggak nonton sama istrinya aja Mas?"
"Hahahaha aku tua sekali? Sampai dibilang punya istri? Aku lahir 5 September 1995 gampang diingatkan? Aku masih 23 tahun, belum ada kepikiran nikah"
"Pacar deh kalau gitu"
"Lagi belum mau pacaran lagi. Kamu sendiri lahirnya kapan?"
"14 Juni 1998"
"Wah masih lama. Padahal mau minta traktir hahahaha"
Bercerita tentang anak jalanan, sampai temtang pribadi kami masing-masing.
Sabtu siang, sesuai dengan janji waktu itu. Menunggu Mas Tio buat nonton. Katanya mau jemput. Dari tadi di WA nggak dibalas. Ditelpon berkali-kali nggak diangkat. Apa aku ke bioskop sendiri saja. Takut tiketnya habis. Aku ke sana sendirian saja deh, biar langsung ketemu Mas Tio di sana. Filmnya sudah mau dimulai. "Mbak, filmnya sudah mau mulai. Tidak masuk?"
"Makasih mbak, iya saya masuk"
Aku menonton sendirian. Tidak tenang. Aku tidak tahu jalan filmnya gimana. Pikiran ku hanya ke Mas Tio. Apa dia kenapa-kenapa di jalan? Nomernya tidak aktif buat dihubungin. Aku WA hanya centang satu. Setelah film selesai, aku mencoba ke LSM.
"Mas Surya, Mas Tio nya ada?"
"Tio lagi di luar kota, Dia pulang kampung untuk natalan di sana. Ada apa ya?"
"Oh nggak Mas. Hanya ada perlu sedikit sama dia. Makasih Mas"
Malamnya Mas Tio chat minta maaf sudah ingkar janji dan tidak memberi kabar. Aku hanya bisa menjawab tidak apa-apa, padahal malam itu aku menangis, tidak tau apa alasannya.
"Selamat malam semua, hari ini kita akan membahas acara amal yang akan dilakukan minggu depan, saya akan perkenalkan perwakilan dari LSM yang bekerja bersama kita nanti, ini Mas Tio dan Mas Surya, mereka yang nantinya temanin kalian untuk ambil dokumentasi kegiatan amal nanti, lebih banyaknya akan dijelaskan oleh Mas Tio"
"Terimakasih Mas Jun atas kesempatan yang diberikan, saya perwakilan LSM yang biasa mendidik anak jalanan disekitar Jalan Sukmasari, minggu depan saya akan menemani kalian anak-anak PKL untuk mengambil dokumentasi kegiatan kami nanti...."
Tiba-tiba handphone aku bunyi memutus pembicaraan Mas Tio,"Maaf, permisi saya keluar sebentar"
"Halo. Aku lagi sibuk"
"10 menit lagi aku sampai buat jemput kamu"
"Aku belum selesai rapat"
"Nanti aku minta izin Saga pelatih kamu itu, dia teman aku kok, dia pasti mengerti acara ulang tahun Oma aku lebih penting daripada rapat kamu itu Riana sayang"
"Ok Bimo buat hari ini aku mengalah sana kamu demi hormatin Oma kamu, tapi tolong ke depannya jangan ganggu aku sampai PKL aku selesai"
"Siap sayang"
Lalu aku masuk kembali ke ruang rapat itu mendengarkan Mas Jun, Supervisor Editing Majalah Sosial tempat aku PKL sekarang ini. "Jadi akan dibagi 3 grup, Grup 1 dipegang Fahrozi untuk ambil dokumentasi kegiatan donatur. Grup 2 dipegang Saga untuk ambil dokumentasi kegiatan anggota LSM. Grup 3 dipegang Dito untuk ambil dokumentasi kegiatan anak-anak jalanan di sana. Ada pertanyaan? Jika tidak ada, silahkan diskusikan sama anak-anak PKL kalian"
"Riana, Henny, Gilang, jadi nanti kalian mulai dari kantor LSM nya di Jalan Tenggiri. Selain ambil gambar, kalian juga harus bantu mereka...."
"Saga, sorry, Gue putus pembicaraan Lo. Mau minta izin Riana pulang duluan, ada acara keluarga"
"Kita lagi rapat Bim, bisa nunggu sampai selesai?"
"Hari iniiii saja, besok besok Gue nggak ganggu begini deh, please" melas Bimo.
"Ya sudah, Riana, saya bolehkan kamu pulang duluan, info selanjutnya nanti saya WA"
"Thanks Sag, Lo sahabat Gue yang pengertian"
Akhirnya aku pamit ke Mas Saga, Mas Jun.
Hari acarapun tiba, kameraku pun siap beraksi, memotret kegiatan orang-orang LSM, sesekali aku bertanya bagai wartawan sama mereka. "Mas Tio berapa lama LSM ini dibentuk?"
"Kurang lebih 3 tahunan"
"Kenapa anak jalanan jadi sasaran?"
"Ikutlah hari ini, kamu akan tau jawabannya"
Acaranya berlangsung dengan baik. Jam istirahat pun tiba. Disaat yang lain sedang santai, aku asyik memotret di luar kelas anak jalanan. Tanpa sadar ada 3 orang preman menggodaku.
"Cewek! Manis banget! Sendirian saja? Habis darimana? Abang antarin pulang ya"
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Dikelilingi 3 laki-laki berbadan besar dan kejar, aku yang bertubuh kecil ini hanya bisa ketakutan dan ingin menangis.
"Kameranya bagus juga, Abang pinjam ya Neng, bagus juga ini kalau dijual"
"Jangan, Bang, buat saya Kuliah itu"
Aku tarik menarik kamera dengan preman itu. Temannya yang lain mulai mencolek-colek badanku.
Bruak!
Salah satu preman itu jatuh. "Bang jangan ganggu, mereka lagi bantu anak-anak hari ini"
"Eh Bos Tio. Maaf Bos, kami tidak tahu. Kami kira dia hanya orang lewat yang bisa kita jadikan mangsa. Teman-teman, kita ke tempat lain saja. Maaf ya Neng"
"Kamu nggak apa-apa Riana?"
"Makasih Mas Tio. Aku nggak apa, tapi kamera ku lensanya retak"
"Maaf ya, harusnya aku peringatkan kalian di awal, jangan terlalu jauh dari kelas, banyak preman di luar sini"
Acara pun selesai. Untungnya aku membawa 2 kamera. Saat yang lain mulai pulang, Mas Tio menahanku.
"Riana, mana kameramu yang rusak. Aku punya teman yang bisa perbaiki itu"
"Boleh tuh Mas, dimana alamatnya?"
"Tidak usah, cukup kameramu saja kasih ke saya, sama minta nomer kamu biar bisa hubungin kalau sudah selesai"
"Ok Mas, ini kamera dan nomer saya. Maaf saya buru-buru mau pulang dulu"
"Sudah dijemput pacar ya?"
"Hahahaha gitu deh Mas"
"Hati-hati"
"Lama banget kamu keluar dari LSM itu? Aku lihat teman-teman kamu yang lain sudah pulang. Kamu berduaan dengan siapa di dalam"
"Bisa nggak selalu percaya sama aku?"
"Sekarang kamu yang ngatur aku? Aku rela nggak jadi ke New York hanya karena mau temanin kamu kuliah di Jakarta"
"Kamu ke sana saja, aku tidak pernah larang kamu"
"Kamu sudah nggak sayang lagi ke aku? 2 tahun kita bersama, apapun aku lakukan untuk kamu"
"Tapi itu kan impian orang tua kamu, ikutilah kemauan mereka"
"nggak usah alihkan pembicaraan. Siapa yang berduaan dengan kamu tadi di dalam LSM?"
"Nggak ada"
"Bohong! Ini apa" sambil menunjukkan foto yang ada di handphone nya.
"Itu orang LSM dia, mau bantu baikin kamera aku"
Dilemparkan handphonenya ke wajahku, "Tuh kan kamu bohong! Tadi bilang tidak ada!"
Bimo tidak sadar hidung dan bibirku berdarah terkena handphonenya.
"Kenapa diam? Ketahuan bersalah?"
Aku hanya mencari tisu disekitar mobilnya. Lalu dia tersadar, "Kamu kenapa? Kok berdarah?"
Aku diam.
"Maaf Riana, aku pikir tidak terkena wajahmu. Antar ke Rumah sakit ya"
"Kenapa mbak? Ujung bibirnya berdarah memar gini, hidungnya juga",tanya perawat yang mengobatiku.
"Dia tidak sengaja terhantup mbak, saat saya rem mendadak, tadi hampir kecelakaan kami mbak," Bimo menjelaskan dengan kebohongannya.
"Silahkan sudah bisa pulang"
"Makasih mbak"
Kami pun pamit,"Jangan diam gitu. Aku minta maaf. Aku akan lakukan apa saja demi kamu maafin aku. Jangan diam begitu. Aku tidak sengaja Riana. Aku emosi kamu berbohong. Kalau kamu jujur, aku nggak akan seperti itu"
"Aku jujur pun kamu tidak percaya"
"Aku percaya. Maafin aku"
"Aku mau maafin kamu kalau kamu ke New York. Aku nggak mau disinisin keluarga kamu. Mereka pikir aku menghalangi kamu. Waktu di acara Oma kamu, Oma kamu sama sekali tidak mau melihatku, Oma kamu bilang ke aku, kalau aku penghalang, aku duri buat keluarga kamu"
"Nanti aku ngomong sama Oma, penilaian Oma salah tentang kamu"
"Kamu katanya mau melakukan apa saja buat dapat maaf dari aku?"
"Iya. Tapi jangan suruh aku jauh dari kamu"
"Aku nggak maafin kamu"
"Ok! Aku ke New York!"
Besoknya aku mengantarkannya ke bandara. "Tunggu aku ya, nanti aku bakal sering pulang kok"
Aku memeluknya. Orangtua nya dan Oma nya sudah dapat menerimaku dan berterimakasih kepadaku. Setelah Bimo berangkat, Oma nya berkata,"Terimakasih mengikhkaskan Bimo mengerjakan impiannya, mulai sekarang kalian putus. Jangan hubungin Bimo lagi, nanti terganggu dia di sana"
"Kalau Bimo yang hubungin saya?"
"Jangan direspon!"
Malamnya aku mengerjakan laporan untuk diserahkan Mas Saga. Aku lupa mengambil memory di kamera yang rusak itu. Aku mencoba chat Mas Tio:
R: Mas Tio dimana? Saya lupa mengambil memory yang ada di kamera kemarin. Isinya mau saya jadikan laporan besok ke Mas Saga.
Sudah 15 menit belum dibaca?
Aku coba telpon. Tidak diangkat.
Masih jam 8 malam. Mau mencoba untuk langsung ke LSM, tapi masih hujan deras. Pesan taksi online saja. Sial! Sudah tutup kantor LSM nya. Serahkan laporan ke Mas Saga seadanya saja.
Besok paginya, aku mengatakan sejujurnya sama Mas Saga. Respon Mas Saga hanya tersenyum. "Kenapa?"
"Tenang saja, hasil foto kamu sudah diemail kemarin sama Tio. Dia lagi ada di luar kota, makanya dia tidak membalas WA dan telpon kamu. Hasil foto mu tidak jelek. Saran saya, ini sebaiknya kamu ambil dari sini, fokuskan ke objek ini, aku tau makna foto ini, maksudnya begini kan?"
Mendengarkan penjelasan Mas Saga sambil mencatat. Tidak terasa waktu pulang telah tiba. Jam menunjukkan pukul 4 sore. Tiba-tiba chat Mas Tio masuk:
T: Maaf baru balas, kemarin saya ada di luar kota, hasil memory kamu sudah aku kirim ke email Saga. Kamera mu sudah baik. Nanti malam ada acara? Gimana kalau ketemuan di cafe Royals jam 7?
R: Ok Mas cafe Royals jam 7. Berapa total perbaikan kameranya?
Tidak dibaca lagi?
Malamnya aku pun datang ke cafe Royals. Mas Tio sudah menungguku. Sendirian. Ini bukan kencan kan? Tanyaku dalam hati.
"Lama nunggunya?"
"Nggak. Baru aja kok. Mau pesan apa?"
"Hot coklatnya satu ya mbak."
"Nggak makan? Nyemil gitu"
"Mas Tio pesan apa?"
"Burger"
"French Fries nya satu"
"Ini kamera kamu. Dicheck dulu"
"Wah iya sudah bagus lagi. Berapa mas?"
"Free"
"Jangan! Pasti mahal banget ini"
"Sebagai gantinya, saya minta traktir nonton dong minggu depan"
"Nonton?"
"Kenapa? Pacar kamu marah?"
"Nggak. Saya nggak punya pacar" aku tidak bohong. Oma nya sendiri yang bilang kita putus.
"Filmnya lagi booming. Saya mau nonton. Tapi gak ada temannya"
"Boleh deh. Kapan?"
"Sabtu ini ya, bisa?"
"Bisa"
"Ayo kita makan"
Ternyata malam itu sungguh menyenangkan. Rasanya sudah lama aku tidak makan malam berdua dengan cowok selain Bimo. Kalau dilihat Mas Tio cakep juga. Kira-kira dia berapa tahun lebih tua dari aku ya?
"Kenapa nggak nonton sama istrinya aja Mas?"
"Hahahaha aku tua sekali? Sampai dibilang punya istri? Aku lahir 5 September 1995 gampang diingatkan? Aku masih 23 tahun, belum ada kepikiran nikah"
"Pacar deh kalau gitu"
"Lagi belum mau pacaran lagi. Kamu sendiri lahirnya kapan?"
"14 Juni 1998"
"Wah masih lama. Padahal mau minta traktir hahahaha"
Bercerita tentang anak jalanan, sampai temtang pribadi kami masing-masing.
Sabtu siang, sesuai dengan janji waktu itu. Menunggu Mas Tio buat nonton. Katanya mau jemput. Dari tadi di WA nggak dibalas. Ditelpon berkali-kali nggak diangkat. Apa aku ke bioskop sendiri saja. Takut tiketnya habis. Aku ke sana sendirian saja deh, biar langsung ketemu Mas Tio di sana. Filmnya sudah mau dimulai. "Mbak, filmnya sudah mau mulai. Tidak masuk?"
"Makasih mbak, iya saya masuk"
Aku menonton sendirian. Tidak tenang. Aku tidak tahu jalan filmnya gimana. Pikiran ku hanya ke Mas Tio. Apa dia kenapa-kenapa di jalan? Nomernya tidak aktif buat dihubungin. Aku WA hanya centang satu. Setelah film selesai, aku mencoba ke LSM.
"Mas Surya, Mas Tio nya ada?"
"Tio lagi di luar kota, Dia pulang kampung untuk natalan di sana. Ada apa ya?"
"Oh nggak Mas. Hanya ada perlu sedikit sama dia. Makasih Mas"
Malamnya Mas Tio chat minta maaf sudah ingkar janji dan tidak memberi kabar. Aku hanya bisa menjawab tidak apa-apa, padahal malam itu aku menangis, tidak tau apa alasannya.
Komentar
Posting Komentar